TANGERANG, KLIKOTO.COM β Digitalisasi mulai menjadi standar baru di industri transportasi darat. PT Bagong Dekaka Makmur memastikan seluruh armada bus pariwisatanya kini telah dibekali berbagai teknologi keselamatan dan sistem pemantauan kendaraan, mulai dari Advanced Driver Assistance System (ADAS), Driver Fatigue System (DFS), GPS, CCTV, hingga telematics.
Direktur Utama PT Bagong Dekaka Makmur, Budi Susilo, mengatakan penggunaan teknologi tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam meningkatkan keselamatan, efisiensi operasional, sekaligus memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM) angkutan yang ditetapkan pemerintah.
“Seluruh armada kami sudah wajib menggunakan ADAS, DFS, GPS, CCTV, dan telematics. Fitur-fitur ini juga menjadi persyaratan saat pengajuan izin operasional kepada Kementerian Perhubungan,” ujar Budi di sela Diskusi Mitsubishi Fuso x Bisnis Indonesia Forum pada ajang GIIAS 2026, Jumat (31/7/2026).
Menurutnya, teknologi telematics tidak hanya berfungsi memantau posisi kendaraan secara real time, tetapi juga mengawasi perilaku pengemudi dan efisiensi operasional armada.
Melalui sensor yang terhubung dengan sistem digital, perusahaan dapat memonitor konsumsi bahan bakar setiap kendaraan. Jika ditemukan penggunaan BBM yang tidak normal, perusahaan dapat segera melakukan evaluasi terhadap gaya mengemudi, kondisi kendaraan, hingga potensi penyalahgunaan bahan bakar.
“Semua bisa dipantau secara digital, termasuk penggunaan bahan bakar. Dari data tersebut kami bisa mengetahui penyebab pemborosan sehingga operasional menjadi lebih efisien,” jelasnya.
Tak hanya itu, PT Bagong Dekaka Makmur juga tengah mengembangkan sistem pemesanan armada berbasis aplikasi. Nantinya pelanggan tidak hanya dapat memesan bus secara online, tetapi juga memilih paket perjalanan lengkap mulai dari rute wisata, hotel, restoran hingga layanan travel dalam satu platform.

Di sisi armada, perusahaan saat ini mengoperasikan 78 unit bus wisata, terdiri atas 48 unit di wilayah Jabodetabek dan 30 unit di Jawa Timur. Seluruh kendaraan telah memenuhi standar pelayanan dan menjalani perawatan berkala untuk menjaga keandalan operasional.
Budi menambahkan, saat perusahaan melakukan penambahan armada baru, aspek teknologi menjadi salah satu pertimbangan utama. Kendaraan yang dipilih harus sudah mendukung fitur keselamatan aktif dan sistem konektivitas digital agar mampu memberikan layanan yang lebih aman, efisien, dan mudah dipantau.
Menurutnya, perkembangan infrastruktur jalan tol di Indonesia juga membuka peluang pertumbuhan bisnis transportasi darat. Dengan konektivitas yang semakin baik dan biaya perjalanan yang lebih kompetitif dibanding moda transportasi udara, permintaan terhadap layanan bus pariwisata diperkirakan akan terus meningkat.
Transformasi ini menunjukkan bahwa operator bus tidak lagi hanya mengandalkan kapasitas armada, tetapi juga berlomba menghadirkan teknologi keselamatan dan sistem manajemen armada yang semakin modern sebagai nilai tambah bagi pelanggan.
(azs)















Komentar