TANGERANG, KLIKOTO.COM – Bukan pemain baru di industri karoseri bus Indonesia, PT Piala Mas Industri akhirnya tampil di ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026. Memiliki pengalaman 48 tahun di bidang karoseri, perusahaan asal Singosari, Malang, Jawa Timur, tersebut membawa sejumlah produk andalannya untuk memperkenalkan diri lebih dekat kepada konsumen.
Keikutsertaan Piala Mas Industri di GIIAS 2026 menjadi momentum penting untuk memperluas eksposur produk di pasar nasional. Sebelumnya, perusahaan juga telah mengikuti ajang Busworld di Kemayoran, Jakarta.
“Ini pertama kalinya kami ikut GIIAS. Sebelumnya kami pernah mengikuti pameran Busworld di Kemayoran. Dari pameran seperti ini, kami bisa lebih mengenalkan produk kepada konsumen,” ujar Boby Ardianto, perwakilan PT Piala Mas Industri, saat ditemui di booth Piala Mas Industri, Hall 11 GIIAS 2026, Minggu (9/8/2026).
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT

Pada GIIAS 2026, Piala Mas Industri menampilkan sejumlah produk dengan berbagai model. Total terdapat tujuh unit bus yang dipamerkan, baik di area dalam maupun luar Hall 11 ICE BSD, Tangerang.
Beberapa produk yang ditampilkan antara lain New Rexus 8D dan Rexus 7S, termasuk bus dengan konfigurasi mesin depan yang disesuaikan dengan kebutuhan operator.
Menariknya, respons konsumen terhadap produk Piala Mas Industri terbilang positif. Dari unit yang ditawarkan selama pameran, sebanyak empat unit telah terjual.
“Untuk beberapa unit yang dipamerkan memang ada promo berupa potongan harga. Sampai saat ini ada empat unit yang sudah laku,” kata Boby.

48 Tahun Bertahan di Industri Karoseri
Piala Mas Industri telah berdiri sejak 1978. Dengan pengalaman selama 48 tahun, perusahaan berkembang dari bengkel perintis menjadi manufaktur karoseri dengan fasilitas produksi sekitar 4 hektare di Singosari, Malang.
Pengalaman panjang tersebut menjadi modal perusahaan untuk terus mengikuti perkembangan desain dan kebutuhan industri bus di Indonesia.
Boby mengatakan, perubahan desain bus dalam beberapa tahun terakhir berlangsung cukup cepat. Kondisi tersebut membuat karoseri harus mampu beradaptasi dengan tren dan kebutuhan operator.
“Strateginya kami mengikuti perkembangan bus di Indonesia. Kalau melihat lima tahun ke belakang, model bus dulu seperti apa dan sekarang seperti apa, tentu sudah banyak perubahan,” ujarnya.

Menurut Boby, perkembangan bus saat ini semakin banyak terlihat dari desain bodi, kenyamanan, serta fitur yang ditawarkan. Sementara untuk mesin dan sasis, karoseri menyesuaikan dengan produk yang disediakan oleh pabrikan.
Piala Mas Industri sendiri mengembangkan New Rexus sebagai salah satu lini andalannya. Model tersebut merupakan pengembangan dari produk sebelumnya, yakni Zeus, dengan berbagai penyempurnaan pada desain.
New Rexus tersedia dalam sejumlah varian, termasuk Rexus 8D. Model tersebut memiliki tinggi bodi sekitar 3,8 meter dan menawarkan desain yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar bus premium.
TKDN di Atas 50 Persen
Selain mengandalkan pengalaman, Piala Mas Industri juga menyebut tingkat kandungan lokal dalam produk karoserinya berada di atas 50 persen.
“TKDN kami mungkin lebih dari 50 persen. Yang impor kebanyakan hanya sasis, sedangkan komponen bodinya sebagian besar lokal,” jelas Boby.
Menurutnya, Piala Mas Industri juga menggandeng sejumlah pemasok lokal, termasuk pelaku UMKM, untuk memenuhi kebutuhan berbagai komponen dan aksesori.
“Untuk aksesori seperti lampu, kami mendapatkannya dari supplier. Banyak juga yang berasal dari pelaku UMKM,” ujarnya.

Pernah Garap Bus Listrik Bersama PT INKA
Selain memproduksi bodi bus konvensional, Piala Mas Industri juga memiliki pengalaman mengerjakan kendaraan listrik. Salah satunya melalui kerja sama dengan PT Industri Kereta Api (Persero) atau PT INKA.
Boby menyebut Piala Mas Industri sebelumnya terlibat dalam pengerjaan bus listrik berukuran sekitar 8 meter melalui kerja sama tersebut.
“Kalau kendaraan listrik, kami pernah bekerja sama dengan PT INKA sekitar tiga tahun lalu. Jumlahnya sekitar 40 unit dan sekarang sudah beroperasi,” kata Boby.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari upaya Piala Mas Industri mengikuti perkembangan teknologi transportasi di Indonesia, termasuk tren elektrifikasi kendaraan umum.
Meski telah memiliki pengalaman mengerjakan bus listrik, Piala Mas Industri saat ini masih berfokus memperkuat pasar domestik. Untuk pasar ekspor, perusahaan mengakui peluang tersebut masih dalam tahap pengembangan.
“Harusnya bisa ke luar negeri, tetapi kami tetap berusaha. Kalau masuk pasar luar negeri, otomatis kualitas harus terus kami jaga dan tingkatkan. Dengan pengalaman 48 tahun, kami harus terus meningkatkan kualitas,” tutur Boby.
Empat Unit Terjual di GIIAS 2026
Dari sisi penjualan, Piala Mas Industri mencatat respons positif selama mengikuti GIIAS 2026. Hingga Minggu (9/8/2026), sebanyak empat unit bus telah terjual.
Angka tersebut belum menjadi capaian akhir karena rekapitulasi penjualan secara keseluruhan baru akan diketahui setelah pameran berakhir.
Bagi Piala Mas Industri, keikutsertaan di GIIAS 2026 bukan hanya menjadi ajang memamerkan produk, tetapi juga membuka peluang bertemu langsung dengan konsumen dan operator transportasi.
“Kalau ada pameran, kami pasti akan ikut. Harapannya tentu setiap pameran bisa memberikan hasil yang lebih baik,” pungkas Boby.
(azs)



















