KLIKOTO.COM, JAKARTA β Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) mendorong pemerintah memberikan insentif fiskal untuk kendaraan listrik komersial. Langkah tersebut dinilai penting untuk menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM), mengurangi emisi karbon, serta menekan biaya operasional sektor logistik.
Ketua Umum Periklindo, Jenderal TNI (Purn) Dr. Dr. (H.C.) Moeldoko, mengatakan kendaraan komersial memiliki kontribusi besar terhadap konsumsi BBM dan emisi karbon. Karena itu, segmen tersebut dinilai perlu menjadi salah satu sasaran kebijakan percepatan penggunaan kendaraan listrik.
Menurut Moeldoko, biaya logistik di Indonesia masih relatif tinggi. Penggunaan kendaraan listrik di sektor komersial diharapkan dapat membantu menekan biaya operasional, terutama dalam jangka panjang.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Periklindo, kata dia, akan menyampaikan usulan kepada pemerintah agar kendaraan listrik komersial turut dimasukkan dalam skema insentif.
βKalau ada pemberian insentif, harapan kami kendaraan komersial juga dimasukkan,β ujarnya usai konferensi pers Periklindo Electric Vehicle Show (PEVS) 2026 di Jakarta.
Pameran kendaraan listrik tersebut dijadwalkan berlangsung pada 29 Oktoberβ1 November 2026 di JIExpo Kemayoran, dengan mengusung tema The Future of Clean and Efficient Mobility.
Periklindo Dukung Insentif Kendaraan Hybrid
Selain kendaraan listrik berbasis baterai, Periklindo juga mendukung pemberian insentif fiskal untuk kendaraan hybrid.
Moeldoko mengatakan, kendaraan hybrid tetap berkontribusi terhadap pengurangan konsumsi BBM dan emisi karbon. Karena itu, menurutnya, kendaraan jenis tersebut perlu dipertimbangkan dalam kebijakan insentif pemerintah.
Periklindo juga mendorong agar insentif tidak hanya diberikan dalam jangka waktu satu tahun. Kepastian kebijakan diperlukan agar pelaku industri dapat menyusun perencanaan bisnis dan investasi secara lebih terukur.
βJangan hanya dibatasi setahun. Industri membutuhkan kepastian agar bisa menghitung perencanaan hingga beberapa tahun ke depan,β katanya.
Evaluasi Ganjil Genap untuk Kendaraan Listrik
Moeldoko turut menyoroti kebijakan ganjil genap di wilayah perkotaan, khususnya Jakarta. Ia menyarankan agar kebijakan tersebut dievaluasi ketika populasi kendaraan listrik sudah mencapai tingkat yang lebih signifikan.
Menurut dia, kebijakan ganjil genap bagi kendaraan listrik dapat dipertimbangkan kembali apabila proporsi kendaraan listrik telah mencapai sekitar 30 persen dari populasi kendaraan.
Ia menilai kebijakan tersebut perlu disesuaikan dengan perkembangan jumlah kendaraan listrik agar penerapannya tetap relevan dengan tujuan pengurangan emisi dan pengelolaan lalu lintas.
Distribusi Kendaraan Listrik Lewat Kapal Perlu SOP
Di sisi lain, Periklindo meminta pemerintah memperkuat standar operasional prosedur (SOP) pengangkutan kendaraan listrik melalui kapal laut.
Moeldoko mengatakan distribusi kendaraan listrik ke luar Pulau Jawa perlu mendapat perhatian agar tidak terhambat oleh persoalan teknis maupun prosedur pengangkutan.
Periklindo, lanjutnya, telah menyampaikan persoalan tersebut kepada pemerintah agar dapat ditindaklanjuti bersama pihak terkait.
Penguatan SOP dinilai penting untuk memberikan kepastian dalam proses distribusi, terutama ketika pengiriman kendaraan listrik menjangkau wilayah yang lebih luas.
Kendaraan Listrik Mulai Dilirik Sektor Pertambangan
Moeldoko juga menyoroti potensi penggunaan kendaraan listrik di sektor pertambangan. Menurut dia, terdapat permintaan terhadap truk listrik untuk kebutuhan operasional pertambangan, termasuk di wilayah Kalimantan.
Tingginya biaya BBM di sejumlah kawasan pertambangan menjadi salah satu faktor yang mendorong pelaku usaha mempertimbangkan penggunaan kendaraan listrik.
Meski demikian, perkembangan kendaraan listrik di sektor tersebut masih perlu dilihat dari kesiapan operasional, infrastruktur pendukung, serta kondisi lapangan.
Periklindo berharap dukungan insentif dan kepastian regulasi dapat mempercepat adopsi kendaraan listrik, baik untuk kendaraan penumpang maupun kendaraan komersial.
Dengan demikian, penggunaan kendaraan listrik diharapkan tidak hanya mendorong pertumbuhan industri otomotif nasional, tetapi juga membantu menekan biaya logistik dan mengurangi emisi karbon.
(azs)




















Komentar