KlikOto.com – Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik Iran mendorong negara-negara Asia Tenggara mempercepat pengembangan kendaraan listrik (EV).
Harga minyak mentah global melonjak hingga 50% sejak konflik memanas pada akhir Februari 2026 dan kembali menembus level 100 dolar AS per barel. Kenaikan ini membuat biaya bahan bakar semakin mahal dan menekan konsumen.
Kondisi tersebut mendorong pemerintah di kawasan Asia Tenggara untuk mencari alternatif, salah satunya dengan mempercepat adopsi kendaraan listrik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Gangguan pasokan energi juga dipicu situasi di Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dan gas ke Asia. Sejumlah negara kini mulai memperkuat cadangan energi sekaligus menghemat konsumsi bahan bakar fosil.
Di Indonesia, Presiden Prabowo Subianto telah mengumumkan dorongan baru untuk kendaraan listrik sejak Maret lalu. Program ini mencakup produksi mobil listrik nasional hingga pembangunan infrastruktur pengisian daya.
βImpian transportasi listrik kembali mendapat perhatian,β kata Putra Adhiguna dari Energy Shift Institute.
Peran China dan Investasi Jumbo
Perusahaan asal China juga memegang peran penting dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia. Mereka telah menandatangani proyek energi bersih senilai lebih dari 54 miliar dolar AS dengan Perusahaan Listrik Negara pada 2023.
Tak hanya itu, tambahan komitmen investasi sebesar 10 miliar dolar AS juga disepakati saat kunjungan Prabowo ke Beijing pada 2024.
Indonesia sendiri terus memperkuat posisinya dalam rantai pasok global melalui pengembangan industri baterai dan produksi kendaraan listrik di dalam negeri.
Konsumen Mulai Tinggalkan Mobil Bensin
Lonjakan harga BBM juga mulai mengubah perilaku konsumen di Asia. Banyak masyarakat kini mempertimbangkan beralih ke kendaraan listrik demi menekan biaya harian.
Di Hanoi, Vietnam, sejumlah calon pembeli mulai melirik mobil listrik sebagai solusi hemat. Salah satunya Do Thi Lan, yang mengaku pengeluaran bahan bakar keluarganya terus meningkat.
βKami harus menghitung ulang pengeluaran karena biaya bensin makin mahal,β ujarnya.
Hal serupa disampaikan Dao Thi Hue. Ia menilai kendaraan listrik lebih efisien dan praktis karena tidak perlu antre bahan bakar.
Sumber Berita: AFP, AP













