Jakarta, KlikOto.com β Pemerintah menargetkan penurunan biaya logistik nasional menjadi 12,5 persen pada 2029 dari posisi saat ini sekitar 14,29 persen.
Hal tersebut disampaikan oleh Ekko Harjanto, PLT Asisten Deputi Pengembangan Logistik Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, saat talkshow Mitsubishi Fuso x Bisnis Indonesia di GIICOMVEC 2026 yang digelar di JIExpo Kemayoran, Sabtu (11/4/2026).
Menurut Ekko, upaya tersebut merupakan bagian dari transformasi logistik nasional yang sejalan dengan program pembangunan infrastruktur pemerintah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
βBiaya logistik kita masih cukup tinggi, dan ini menjadi tantangan besar. Pemerintah menargetkan bisa turun menjadi 12,5 persen di tahun 2029,β ujarnya.
Ia menjelaskan, biaya logistik nasional terdiri dari tiga komponen utama, yakni transportasi, pergudangan atau persediaan, serta administrasi.
Dari ketiga komponen tersebut, biaya transportasi menjadi penyumbang terbesar dengan porsi mencapai sekitar 62 persen.
βTransportasi menjadi komponen terbesar dalam biaya logistik nasional,β kata Ekko.
Lebih lanjut, ia menyebut angkutan darat masih menjadi tulang punggung distribusi logistik di Indonesia dengan kontribusi sekitar 30 persen, diikuti angkutan laut dan udara.
Namun, dominasi angkutan darat juga menghadirkan tantangan, mulai dari kemacetan hingga pembatasan operasional di periode tertentu seperti Lebaran dan Natal-Tahun Baru.
βTransportasi darat ini biayanya relatif tinggi dan rentan terhadap hambatan,β jelasnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah mendorong integrasi antar moda transportasi, khususnya antara darat dan laut, guna meningkatkan efisiensi distribusi.
Selain itu, pemerintah juga menargetkan peningkatan kinerja logistik melalui percepatan waktu putar kapal (turnaround time) di pelabuhan dari 1,8 hari menjadi 1,2 hari pada 2029.
βEfisiensi harus dilakukan, salah satunya dengan integrasi moda transportasi,β tutup Ekko.
(oto/ziz)













